Jalan Panjang JRBM Meng-Hijaukan “Bumi” di Site Lanut. Jadi Wilayah “Tarki” hingga Aksi Ilegal Mining

Sulawesi Kini, Boltim – Asa kembali munculnya kehidupan flora dan fauna di site Lanut, Wilayah yang masuk pada konsesi PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM) di Desa Lanut, Kecamatan Modayag, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) mulai terasa. Pepohonan dan tumbuhan, serta “Invasi” satwa liar mulai nampak terlihat di Site yang sempat masa eksploitasi selang tahun 2004 hingga 2019.

Lucunya lagi, dari cerita tim Pasca Tambang baik dari vendor mau pun PT JRBM, di site yang akan memasuki tahun terakhir masa pasca tambang, sering terlihat aksi Tarki atau Tawuran antar Yaki. Mamalia yang dalam bahasa latin Macaca Nigra ini diceritakan oleh Yusri Gunawan, selaku Environment, Head, and Safety Manejer PT JRBM pernah terlihat saling serang.

Pit Riska

“Beberapa kali personil kami di lapangan mendapati aksi kayak tawuran antara kelompok Yaki ini. Kejadian itu tiba-tiba dan tidak berlangsung lama. Setelah itu, mereka kembali ke wilayah hutan,” ungkap Yusri.

Cerita ini merupakan bagian dari proses panjang upaya pengembalian fungsi kawasan di site Lanut dalam program reklamasi dan pasca tambang PT JRBM. Dimulai sejak tahun 2020, pelaksanaan pasca tambang ini pun sudah mulai menunjukan hasil yang positif. Tak hanya memakan waktu panjang, anggaran yang dikucurkan pun tidak sedikit.

Dua pit yang menjadi pusat dari aktifitas produksi kala itu, yakni Pit Riska dan Pit Rasik pun perlahan-lahan di-treatment  secara pendekatan sangat teknis agar kembali “Perawan”. Meski dengan tantangan berat, seperti kondisi tanah yang tidak subur akibat aktifitas kimiawi, dan medan tebing yang curam, vendor dari  PT Ragama Konstruksi Nustantara (RAKTA), dan tim asuhan Yusri Gunawan dari PT JRBM berkolaborasi untuk menjawab tantangan itu.

READ  Bocah Asal Bolsel, Zubair Azzan Menang Mutlak di Kejuaraan Karate Internasional

Kolaborasi ini menciptakan proses penanaman bibit menggunakan sistem kompos blok di tanah yang tidak subur, hingga pemasangan jaring cocomesh di tebing dengan menggunakan bibit pohon beringin.

“Kenapa kita gunakan pohon beringin pada proses penanaman di tebing, karena akar dari pohon beringin ini sangat kuat. Dan, sudah kita buktikan pada proses pasca tambang sebelumnya di pertambangan yang ada di Sumatera,” ungkap Faghira Muhammad Ghazani selaku Supervisor EHS Foresty dari PT RAKTA.

Proses penanamannya pun sudah berlangsung hampir setahun. Ditanam sejak bulan Juli tahun 2025 lalu, pepohonan khususnya di pit Rasik pun mulai tumbuh. Di beberapa titik, rumput mulai menjalar di atas tanah setelah dilakukan proses penanaman dengan menggunakan serabut kelapa yang diolah hingga menjadi cocopeat.

Tak hanya itu, proses penanamannya di-upgrade. Jarak dan jumlah bibit yang ditanam pun di-efektifkan. Bukan tanpa alasan, target waktu hingga tahun 2027 mendatang disebut harus dikejar.

“Di Pit Rasik misalnya, jarak tanam itu kan empat meter. Nah, ada yang kita buat jaraknya dua meter. Di tengah-tengah itu juga kita tanami beberapa jenis pohon. Kita optimalkan waktu agar di tahun 2027 nanti, target pucuk-ketemu-pucuk bisa terwujud,” tambah Fahgira.

Tak hanya titik operasi produksi, namun beberapa lokasi seperti perkantoran, hingga mess  karyawan yang digunakan dulu pun “dipoles” dengan tanaman berjenis pohon seperti kayu putih, nantu, hingga tanaman buah-buahan.

Program pasca tambang ini pun saat ini masih terus berlanjut. Vendor, dan pihak PT JRBM terus memaksimalkan segala sumber daya untuk bisa melancarkan proses pasca tambang ini. Bahkan, beberapa penunjang seperti mobilisasi tangki air disiapkan untuk menghadapi cuaca panas atau fenomena El Nino yang diprediksi akan terjadi beberapa waktu ke depan.

READ  Bina Marga DPUPR Kotamobagu Tambal Jalan di Bilalang I dan II

Meski demikian, gangguan pun sering datang di tengah proses pasca tambang ini. Salah satunya dari aktifitas manusia. Beberapa kali, ada warga yang memasuki wilayah pasca tambang dengan tujuan diduga untuk melakukan praktik ilegal mining.

Tim PT JRBM pun telah melakukan berbagai upaya mitigasi untuk mencegah aksi-aksi tersebut kembali terjadi. Pelibatan pengamanan dari TNI-Polri pun ditempuh. Selain itu, upaya pendekatan persuasif dengan pemerintah daerah setempat, baik pemerintah desa dan kecamatan pun dilakukan. Sering kali, sosialisasi dilaksanakan agar masyarakat di lingkar site lanut bisa memahami proses pasca tambang ini.

“Beberapa kali kami temukan ada orang-orang yang masuk yah. Kita amankan, dan antar ke pemerintah desa untuk dilakukan pembinaan. Kita berharap, hal-hal seperti ini tidak terjadi yah. Mengingat, wilayah site Lanut ini merupakan bekas pertambangan yang masih menjadi tanggung jawab kami,” tutur Yusri Gunawan selaku Environment, Head, and Safety Manejer PT JRBM.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *