Jutawan Baru di Matali Baru

Penulis : Suriadi Mokoagow

Sulawesi Kini, Bolmong – Senyum memerah tergambar dari wajah Min Podomi, Petani Kakao asal Desa Matali Baru, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) binaan PT J Resources Bolmong (JRBM) kala bertutur soal uang hasil panen Kakao di depan peserta pelatihan Jurnalistik PT JRBM – Tempo Institute, Jumat 18 September 2026.

Rona malu-malu kucing itu terpapar di wajah Min karena ia melihat respon dari orang-orang menyaksikannya bertutur soal hasil panen Kakao yang bikin takjub.

“Alhamdulillah, pernah menjual 150 kilogram dari hasil satu kali panen yakni sepuluh hari,” tutur Min disambut tawa bangga yang mendengarkannya.

Min Podomi bercerita tentang penghasilannya dari tanam Kakao dengan malu-malu di depan peserta pelatihan Jurnalistik PT JRBM-Tempo Institute, Jumat 18 September 2026 di lahan kelompok tani binaan PT JRBM.(Foto : Sulawesi Kini/Yadi Mokoagow)

Min bercerita, di tahun 2022, ia terinspirasi dari para petani kakao binaan PT JRBM namun belum memiliki lahan. Berjalannya waktu, di tahun 2023, Min ikut masuk dalam kelompok binaan PT JRBM dan memulai menanam sebanyak 1000 bibit pohon kakao jenis MCC 02 bersama suaminya, Oman Dibo.

“Awalnya tahun 2023, ditanam seribu pohon. Hasil panennya, saat itu belum mencapai 200 kilo. Sekarang sudah ada sekitar dua ribu pohon. Setiap panennya itu 10 hari bisa dapat 180 hingga 200 kilo kakao kering,” kata Min.

Angka hasil panen ini jika dikoversikan dengan rupiah akan menyentuh di angka puluhan juta. Per kilogram kakao kering dibeli oleh toko pengepul  di angka Rp120.000.

Dikalikan dengan hasil panen Min Podomi per 10 harinya di angka 180 sampai 200 kilogram kering, maka Min bisa meraup pendapatan sebesar Rp15.000.000 per panen atau 10 hari. Per bulannya, Min bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari tiga kali hasil panen mencapai Rp45.000.000.

Rasa iri, dan gelisah pun membalut dihati. Rasa-rasanya ingin menjadi bagian dari para Petani Kakao di Desa Matali Baru yang mendapat binaan dari PT JRBM. Penghasilannya fantastis dari hasil tani.

READ  Untuk Boltim Bangkit, Ratusan Kepala Sekolah Tandatangani Perjanjian Kinerja

Kepala menghitung dan membandingkan. Jika beralih profesi dari wartawan ke Petani Kakao lebih menguntungkan secara ekonomi. Tapi, keraguan masih mengisi batok kepala. Apa benar cerita Min Podomi ini?

Tak berselang lama, cerita yang sama juga datang dari Hajan Paputungan, petani kakao yang juga berasal dari Desa Matali Baru. Hajan memulai dengan mengajukan diri sebagai petani kakao ke PT JRBM, setelah perusahaan tambang emas itu membuka program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk pendampingan petani kakao lokal.

Seloroh soal hasil produksi Kakao kering yang disebut Hajan Paputungan sebagai rahasia perusahaan, sembari memegang bahu Ronny Kobandaha sang Profesor Kakao juga konsultan dari PT JRBM.(Foto : Sulawesi Kini/Yadi Mokoagow)

“Waktu itu, produksi (buah kakao) kurang, kualitas kurang, dan pupuknya juga mahal. Kami juga untuk dapatkan pupuk itu susah,” ujar Hajan.

Hasilnya, Hajan mengaku mendapat bantuan berupa 300 bibit kakao, pupuk organic cair dan padat, serta obat pengendali hama. Tak hanya itu, pendampingan konsultan yang disediakan PT JRBM yakni Ronny Kobandaha dan Robbyn Steven Mamengko juga menjadi kunci utama pengembangan pertanian Kakao di lingkar tambang PT JRBM yang mendapat program CSR ini.

“Saat mendengar ada program CSR dari JRBM, saya memberanikan diri untuk menebang pohon kakao yang ada, atas saran dari prof Kakao bapak Ronny yang menjadi konsultan PT JRBM. Saya berprinsip saat itu, biarlah dua tahun belum ada hasilnya,” tutur Hajan.

Berselang 9 bulan setelah mendapat pendampingan konsultan Ronny Kobandaha yang fokus pada pola tanam, dan Robbyn Steven Mamengko yang mengelola pupuk organik bentuk padat dan cair, Hajan mengaku takjub akan hasilnya.

“Dulu, sebelum ada pendampingan penanaman kakao ini, kalau mengurus anak sekolah itu harus menjual tanah atau berhutang. Tapi, alhamdulillah, setelah ada pendampingan ini mencukupi, bahkan melebihi. Jadi istilahnya, kebutuhan itu tercukupi. Itu yang kami alami sekarang,” kata Hajan.

READ  Kejar Pengembalian TGR, Pj Sekprov Sulut Pimpin Sidang MPPKN

Hajan termasuk orang pertama yang mendapatkan pendampingan dari PT JRBM bagi petani kakao di lingkar tambang. Kini, dalam sebulan, Hajan membeberkan, hasil panennya menyentuh di angka 500 kilogram kering.

“Sebenarnya jika bicara soal produksi, ini sebenarnya sudah masuk rahasia perusahaan,” kata Hajan yang disambut gelak tawa rombongan yang dipimpin Chief Sustainability Officer PT JRBM, Anang Rizkani Noor.

Mendengar cerita keduanya sungguh menggiurkan. Menjadi jutawan jalur tanam Kakao. Cuan besar, dengan prospek yang tak butuh waktu lama. Wajar juga, sebagian masyarakat di Desa Matali Baru mulai melirik aktifitas ini.

Chief Sustainability Officer PT JRBM, Anang Rizkani Noor berjabat tangan dengan Mantan Kepala Desa Matali Baru Oslan Paputungan yang menjadi inisator lahirnya program pendampingan petani kakao di lingkar tambang PT JRBM.(Foto : Sulawesi Kini/Yadi Mokoagow)

Oslan Paputungan, mantan Kepala Desa Matali Baru bertutur, menanam Kakao kini menjadi aktifitas idola masyarakat di desanya.

Mayoritas profesi yang digeluti oleh masyarakat Desa Matali Baru itu memang sebagai petani. Ada juga pegawai negeri sipil (PNS), penambang, hingga wiraswasta.

Sejak tahun 2019, program CSR PT JRBM yang mendampingi petani lokal ini memberi warna tersendiri bagi pendapatan masyarakatnya. Para petani kakao berhasil bangkit dari kondisi fiskal yang tanggung.

Dari data yang dirilis BPS Bolmong beberapa waktu lalu, Oslan menyebut pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021 – 2022 kembali menunjukkan percepatan menjadi 3,87 persen dan 5,35 persen.

“Dikatakan oleh pihak BPS saat itu, sektor pertanian di masing-masing wilayah menyumbang pertumbuhan ekonomi. Di tahun itu, kami di Kecamatan Lolayan juga mulai menikmati hasil pendampingan pertanian kakao dari PT JRBM,” beber Oslan.

Cerita Min dan Hajan yang masuk dalam kelompok binaan PT JRBM ini menjadi gambaran nyata bagaimana CSR bisa berdampak secara berkelanjutan. Dari sebelumnya mengelolah lahan dengan kemampuan terbatas, akhirnya bisa mendapatkan hasil yang berlimpah.

PT JRBM pun sebagai bentuk usaha mampu bertanggung jawab dengan kehadirannya di tengah masyarakat. Bukan hanya sekedar memberi, namun CSR atau Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT JRBM ini membentuk kemandirian ekonomi masyarakat.*

READ  Wujudkan Pengelolaan Sampah Modern, Pemprov Sulut Percepat Pembangunan Fasilitas PSEL Manado Raya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *